Musang King Angkat Ekonomi Raub, Durian Malaysia Diburu Pasar China

Kamis, 29 Januari 2026 | 15:04:59 WIB

JAKARTA - Aroma durian yang menyengat menjadi penanda paling khas saat memasuki Raub, sebuah kota kecil di Malaysia yang berjarak sekitar satu setengah jam perjalanan darat dari Kuala Lumpur. Truk-truk pengangkut durian hilir mudik di jalanan, sementara patung raksasa berbentuk durian dan papan sambutan bertuliskan “Selamat datang di rumah durian Musang King” menyapa para pengunjung. Bagi Raub, durian bukan sekadar buah, melainkan simbol perubahan ekonomi yang mengalirkan uang dari pasar China ke kota kecil ini.

Dari Kota Tambang Emas Menjadi Sentra Durian Premium

Raub pernah dikenal sebagai tujuan para pencari emas pada abad ke-19. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, identitas kota ini berubah drastis. Logam mulia tergeser oleh buah berduri bernama Musang King, varietas durian yang terkenal dengan tekstur lembut serta rasa pahit-manis yang khas.

Di kalangan konsumen China, Musang King bahkan dijuluki sebagai “Hermès-nya durian”. Julukan tersebut mencerminkan posisinya sebagai durian kelas premium yang bernilai tinggi. Perubahan orientasi ekonomi ini menjadikan Raub sebagai salah satu contoh kota di Asia Tenggara yang merasakan langsung dampak lonjakan permintaan durian dari China.

Ledakan Permintaan China dan Peluang Ekonomi Besar

Lonjakan konsumsi durian di China menjadi pendorong utama perubahan di Raub. Pada 2024, China mengimpor durian senilai US$7 miliar atau sekitar Rp118,3 triliun, meningkat tiga kali lipat dibandingkan 2020. Kini, lebih dari 90% ekspor durian dunia mengalir ke China.

“Bahkan jika hanya 2% orang Tiongkok yang ingin membeli durian, nilai bisnisnya sudah lebih dari cukup,” kata Chee Seng Wong, manajer pabrik Fresco Green, eksportir durian di Raub.

Ia mengenang masa krisis ekonomi 1990-an ketika para petani justru menebang pohon durian untuk memberi ruang bagi kelapa sawit. “Sekarang kebalikannya. Mereka menebang kelapa sawit untuk menanam durian lagi.”

Pernyataan ini menggambarkan betapa besarnya daya tarik ekonomi durian saat ini, terutama ketika permintaan datang dari pasar sebesar China.

Durian sebagai Gaya Hidup dan Simbol Status di China

Durian dikenal dengan aromanya yang kuat, hingga dilarang di sejumlah hotel dan transportasi umum. Namun di China, buah ini justru dipuja. Durian disebut sebagai “Raja buah-buahan” oleh penggemarnya, sementara bagi yang tidak menyukainya, baunya disamakan dengan belerang atau selokan.

Di kalangan berada di China, durian kerap dijadikan hadiah eksotis, simbol status sosial, dan konten populer di media sosial. Buah ini juga menjadi bintang berbagai kreasi kuliner unik, mulai dari hotpot ayam durian hingga pizza durian.

Malaysia semakin menonjol karena memasok varietas premium seperti Musang King, berbeda dengan Thailand dan Vietnam yang menjadi pemasok utama durian dalam jumlah besar. Harga durian biasa di Asia Tenggara dapat dimulai dari Rp34.000, namun Musang King bisa mencapai Rp236.000 hingga Rp1,7 juta per buah, tergantung kualitas dan musim.

“Begitu saya makan durian Malaysia, pikiran pertama saya adalah, ‘Wow, ini enak sekali. Saya harus menemukan cara untuk membawanya ke China’,” kata Xu Xin, pedagang durian berusia 33 tahun dari timur laut China.

“Saat ini semakin banyak pelanggan yang datang ke toko dan bertanya, ‘Apakah ada yang rasanya pahit di tumpukan ini?’”

Dinasti Petani Durian dan Kerja Keras di Balik Kejayaan

Di balik manisnya keuntungan, terdapat kerja keras para petani durian di Raub. Salah satunya adalah Lu Yuee Thing, atau yang dikenal sebagai Paman Thing. Ia memiliki toko durian dan sejumlah perkebunan, serta menjadi salah satu kisah sukses di kota tersebut.

“Durian telah banyak berkontribusi pada perekonomian di sini,” kata Paman Thing sambil menunjukkan truk pikap yang kini menggantikan jip reyot yang dulu digunakannya.

Namun, ia menegaskan bahwa kesuksesan tidak datang dengan mudah. Pada usia 72 tahun, Paman Thing masih bangun saat fajar untuk memanen durian. Beberapa tahun lalu, sebuah durian jatuh menimpa bahunya dan menyebabkan cedera yang masih terasa hingga kini.

“Sepertinya petani menghasilkan uang dengan mudah. Tapi itu tidak mudah,” katanya.

Setelah dipanen, durian disortir dari Kelas A hingga Kelas C, dengan satu keranjang khusus Kelas AA—yang terbaik—untuk segera diterbangkan ke China.

Diplomasi Durian dan Ancaman Masa Depan

Popularitas durian juga menjadi alat diplomasi ekonomi China. Beijing menandatangani perjanjian perdagangan dengan Thailand, Vietnam, Malaysia, hingga negara pemasok baru seperti Kamboja, Indonesia, Filipina, dan Laos.

Namun, upaya memenuhi permintaan ini memunculkan konsekuensi. Di Vietnam, peralihan petani kopi ke durian mendorong kenaikan harga kopi global. Di Raub sendiri, konflik lahan muncul ketika otoritas menebang ribuan pohon durian yang dianggap ditanam ilegal.

Sementara itu, China juga mengembangkan produksi durian sendiri di Pulau Hainan. Meski saat ini kontribusinya masih kecil, Paman Thing mengakui potensi dampaknya. “Hainan telah berhasil dalam eksperimennya... Jika mereka memiliki pasokan sendiri dan mulai mengurangi impor, pasar kita akan terpengaruh.”

Untuk saat ini, Musang King masih berjaya. Namun, di tengah ketergantungan pada pasar China, takhta durian premium Malaysia tampak semakin diuji oleh perubahan global yang terus bergerak.

Terkini