Kemenhan dan Unhan Pasang 60 Instalasi Penjernih Air di Aceh Tamiang

Senin, 26 Januari 2026 | 10:33:49 WIB
Kemenhan dan Unhan Pasang 60 Instalasi Penjernih Air di Aceh Tamiang

JAKARTA - Pascabencana, kebutuhan air bersih di wilayah-wilayah yang terdampak, seperti di Aceh Tamiang, menjadi perhatian utama. 

Bencana alam yang melanda kawasan ini menyebabkan banyak wilayah terisolasi, dengan akses air bersih yang terbatas. 

Menyikapi hal tersebut, Kementerian Pertahanan (Kemhan) bekerja sama dengan Universitas Pertahanan (Unhan) untuk memasang 60 unit instalasi penjernih air siap minum berbasis teknologi reverse osmosis (RO) di berbagai fasilitas umum di daerah tersebut. 

Langkah ini bertujuan untuk memastikan masyarakat setempat, terutama mereka yang berada di wilayah terisolir, dapat kembali mendapatkan akses air bersih yang aman dan layak konsumsi.

Tantangan Kebutuhan Air Bersih di Aceh Tamiang

Dalam situasi pascabencana, keberadaan air bersih menjadi salah satu elemen yang sangat krusial, terutama di daerah yang terdampak oleh bencana alam. 

Kolonel Infanteri Adam Mardamsyah, Komandan Satuan Tugas Air Bersih di Aceh Tamiang dan Kepala Program Studi Informatika Unhan, menjelaskan bahwa sebelum pemasangan instalasi RO, timnya telah melakukan survei untuk memetakan kebutuhan air bersih di daerah tersebut. 

Unhan, sebagai lembaga yang juga berperan sebagai think tank di bidang pertahanan, merancang sistem penyediaan air bersih dengan pendekatan yang berkelanjutan, yang diharapkan dapat digunakan dalam jangka panjang, terutama di wilayah yang seringkali terdampak bencana.

Pemasangan instalasi penjernih air RO yang dimulai sejak 20 Desember 2025 ini dilakukan di sejumlah titik yang memiliki prioritas tinggi, termasuk puskesmas, sekolah, meunasah, masjid, perkantoran, dan bahkan koramil yang terdampak bencana. 

Salah satu titik pemasangan yang penting adalah di SDN 1 Tualang Cut, Desa Tualang Baro, Kecamatan Manyak Payed, yang menyediakan air bersih untuk keperluan sekolah dan masyarakat sekitar.

Teknologi Reverse Osmosis (RO) untuk Penjernihan Air

Reverse osmosis (RO) adalah teknologi yang digunakan untuk memurnikan air melalui filtrasi dan tekanan tinggi, sehingga menghasilkan air yang bebas dari bakteri, virus, dan kandungan zat terlarut yang dapat membahayakan kesehatan. 

Diyan Parwatiningtyas, seorang dosen Program Studi Fisika Fakultas MIPA Militer Unhan sekaligus peneliti utama untuk instalasi RO, menjelaskan bahwa teknologi ini sangat efektif dalam mengembalikan air ke kualitas murni. 

"Reverse osmosis itu adalah pembalikan suatu nilai air, bagaimana kita mengembalikan esensi air itu menjadi jernih, menjadi murni lagi melalui beberapa teknik," ujar Diyan.

Instalasi RO ini bekerja dengan menyaring air menggunakan membran khusus yang dapat memisahkan zat-zat berbahaya dari air. 

Teknologi ini juga dilengkapi dengan sensor Total Dissolved Solids (TDS) untuk mengukur kandungan zat terlarut dalam air, serta pengujian laboratorium bersertifikasi untuk memastikan air yang dihasilkan aman dikonsumsi.

 Salah satu parameter yang dijaga adalah pH air yang harus tetap netral, yakni antara 6,5 hingga 7, untuk memastikan air tersebut aman untuk diminum.

Sistem Pembagian Air Bersih dan Air Minum

Setelah proses pemurnian menggunakan teknologi RO, air dibagi menjadi dua jalur: air bersih untuk kebutuhan sehari-hari dan air minum yang sudah diperkaya dengan mineral alami serta disterilkan dengan sinar ultraviolet (UV) untuk memastikan bahwa air yang diminum oleh masyarakat bebas dari mikroorganisme berbahaya. 

Sistem distribusi ini diharapkan dapat menjawab kebutuhan masyarakat akan air bersih dan air minum yang layak, terutama di daerah-daerah yang selama ini kesulitan mendapatkan akses tersebut.

Sebanyak 60 unit instalasi RO telah dipasang di berbagai fasilitas umum di Aceh Tamiang, dan pemasangan ini masih akan terus berlanjut hingga mencapai target 100 unit. 

Masing-masing unit RO mampu menghasilkan sekitar 15 ribu liter air per hari, yang dapat mencukupi kebutuhan air bersih untuk ribuan orang di wilayah-wilayah yang terisolir dan terdampak bencana.

Keberlanjutan dan Pengawasan Instalasi RO

Instalasi RO yang dipasang tidak hanya diserahkan begitu saja, tetapi pengelolaan dan pemeliharaannya juga menjadi perhatian utama. Kolonel Adam Mardamsyah menekankan bahwa instalasi RO tersebut dihibahkan kepada pengelola setempat dengan peraturan yang jelas, yakni tidak boleh diperjualbelikan dan harus dikelola secara berkelanjutan. 

Pengelolaan ini akan dilaksanakan dengan pengawasan yang ketat, serta pelatihan bagi operator lokal untuk memastikan bahwa alat tersebut dapat berfungsi dengan baik dalam jangka panjang.

Dampak Positif Teknologi RO bagi Masyarakat

Pemasangan instalasi RO ini memberikan dampak yang sangat positif bagi masyarakat di Aceh Tamiang, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah-daerah terisolir yang kesulitan mendapatkan air bersih. 

Dengan adanya sistem RO, masyarakat kini memiliki akses yang lebih mudah dan cepat untuk memperoleh air yang aman untuk diminum dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. 

Selain itu, inisiatif ini juga membantu meringankan beban masyarakat pasca-bencana, karena kebutuhan air bersih adalah salah satu masalah mendesak yang harus segera diatasi.

Riset dan Inovasi Teknologi untuk Menghadapi Bencana

Pemasangan instalasi RO ini tidak terlepas dari riset panjang yang dilakukan oleh tim Unhan, khususnya dalam mengembangkan teknologi yang dapat bekerja optimal di berbagai kondisi sumber air. 

Diyan Parwatiningtyas mengungkapkan bahwa sistem RO yang digunakan telah melalui berbagai uji coba dan penyempurnaan selama lebih dari satu dekade. 

Riset ini melibatkan eksperimen pada membran, tekanan, dan formulasi batuan mineral untuk memastikan sistem dapat berfungsi baik meskipun dihadapkan pada kondisi air yang kurang ideal, seperti air asam yang sering ditemui di Sumatera.

Pemasangan instalasi ini juga mencerminkan inovasi teknologi dalam menghadapi bencana dan menjadi bukti nyata kontribusi anak bangsa dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat terdampak bencana. 

Kemhan, melalui kerja sama dengan Unhan, berhasil menyediakan solusi konkret yang tidak hanya bermanfaat dalam jangka pendek, tetapi juga memiliki keberlanjutan yang dapat mengatasi masalah air bersih di wilayah bencana di masa depan.

Pemulihan Bencana yang Berkelanjutan

Instalasi penjernih air ini adalah bagian dari upaya besar untuk membantu pemulihan wilayah yang terdampak bencana. Dengan adanya teknologi reverse osmosis ini, Aceh Tamiang kini memiliki solusi jangka panjang dalam hal air bersih dan air minum. 

Kementerian Pertahanan, bersama Unhan, menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya melibatkan pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga inovasi teknologi yang dapat mengatasi masalah mendasar yang dihadapi oleh masyarakat.

Terkini